SELAMAT KUNJUNGI WEBSITE GEREJA KATOLIK STASI MUGOUDA

PATER LEO BOERSMA, OFM SALAH SATU MISIONARIS FRANSISKAN YANG PERNAH BERKARYA DI TANAH PAPUA

 


‎Leo Boersma lahir Kota Haarlem, Belanda pada 21 Desember 1915. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya adalah seorang pegawai di perusahaan kereta milik pemerintah Belanda dan ibunya adalah seorang guru pada sebuah yayasan Gereja yang ada di kota kelahirannya. Semenjak kecil, Leo Boersma dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan suka menyendiri. Ia bersama dengan saudaranya yang lain, dibesarkan oleh kedua orang tua mereka dengan penuh cinta. Juga, dalam kehidupan bersama keluarga asal, benih panggilan untuk menjadi seorang imam dalam Gereja Katolik sudah tampak. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika di kemudian hari, ia akan menjadi seorang imam Fransiskan yang diutus menjadi misionaris di Tanah Misi Katolik di Papua.
‎Setelah menyelesaikan pendidikan umum di Belanda. Leo Boersma masuk dan bergabung dengan persudaraan Fran sis- kan Belanda. Ia mulai menjalani masa Novisiat pada tahun 1935 dan ia sendiri dapat menyelesaikan masa ini dengan baik, serta tepat waktu. Pasca-tahun Novisiat, Leo Boersma, OFM melanjutkan studi filsafat dan teologi (salah satu persyaratan untuk menjadi imam) di Belanda dan selesai pada tahun 1940. Dalam masa studinya, Leo Boersma, OFM mengucakan profesi kekal (kaul kekal) pada tahun 1939. Pada tahun 1942, Leo Boersma, OFM ditahbiskan menjadi imam Fransiskan di Kota Weert Belanda bersama dengan 15 saudara Fransiskan yang lain. Pasca-tahbisan, ia ditugaskan di Belanda untuk mempelajari akuntansi dan kembali bertugas dalam lingkungan Persaudaraan Fransiskan Belanda. Selain itu, ia juga sempat menjadi pastor rekan di sebuah paroki yang ada di Kota Weert, Belanda.
‎Pada pertengahan tahun 1946, ia dipercaya oleh Persaudaraan Fransiskan untuk menjadi misionaris di Tanah Misi di Papua. Dengan segala kesiapan untuk menjadi misionaris di Tanah Misi, maka pada akhir tahun 1946 Pater Leo Boersma, OFM berangkat dari Belanda menuju Papua. Setelah melewati perjalanan yang begitu panjang, ia tiba dengan selamat di Tanah Papua pada 22 Februari 1947. Mula-mula ia bertugas sebagai pastor di Jayapura, Papua selama satu tahun lebih. Waktu tersebut juga digunakannya untuk mengadakan orientasi pastoral. Pada tahun 1949, ia diutus bersama dengan Pater Misael Kammerer, OFM untuk mengambil alih tugas misi Katolik di wilayah Wisselmeren (Paniai).
‎Kisahnya sebagai berikut: “Pada Maret 1949 dalam suatu penerbangan dengan pesawat Catalina, berangkatlah Pater Tillemans bersama dua orang Fransiskan ke Enarotali. Mereka itu ada lah Pater Misael Kammerer, OFM dan Pater Leo Boersma, OFM; serta ikut juga dua guru katekis asal Kei (Maluku Tenggara). Mereka itu adalah Gerardus Ohoiwutun ber sama istrinya Leonilla Letsoin dan Bartholomeus Welerubun. Setiba nya di sana, nyatalah bahwa umat tidak lupa dengan pastor mereka yang lama. Jonas Mote misalnya, seorang murid yang pernah bersama Pater Tillemans, MSC yang berasal dari Yaba, membawa seekor babi. Pada saat yang sama mereka mulai mencari bahan bangunan dan mulai membangun rumah apa adanya.”
‎Pater Leo Boersma, OFM berkarya di daerah Wisselmeren (Paniai) dari tahun 1949 sampai pada tahun 1959. Hampir seluruh daerah Paniai sudah ia kunjungi. Tempat-tempat tersebut antara lain, menjadi di Enarotali, Waghete, Modio, dan tempat lainnya. Dalam tugas sebagai pastor di Paniai, pada tahun 1957, ia membuka daerah misi baru di Bilogai. Di Bilogai ia bersama warga setempat membangun lapangan terbang dengan alat-alat seadanya. Ia menjadi Fransiskan pertama yang bertugas di wilayah Paniai. Tahun 1959 ia dipindahkan ke Abepura, menjadi Pastor Paroki Jayapura dan pemimpin komunitas Fransiskan di Abepura sampai kembali ke Belanda.
‎Setelah berkarya selama kurang lebih 17 tahun di Tanah Papua, Pater Leo Boersma, OFM kembali ke Belanda pada tahun 1962. Di Belanda ia tinggal di biara Fransiskan di Kota Haarlem, Belanda. Ia meninggal dunia dengan damai di Kota Haarlem, Belanda pada 12 Juni 1975, dalam usia 59 tahun. Pater Leo Boersma, OFM menjadi Fransiskan selama 39 tahun.
‎Sumber :

‎1. Data dari "Minderbroeders Franciscanen in de Missie", BJ Amsterdam, Belanda, 2005.
‎2. Jan, Sloot. 2012. Fransiskan Masuk Papua, Jayapura: Kustodi Fransiskus Duta Damai, Jilid I.
‎3. Necrologium Dode Franciscaanse Broeders. 1977 - Weert.
‎4. Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua. 2019. “Necrologium” (Mereka yang Sudah Berbahagia).
‎Oleh, Engelberto Namsa, di share mediasi oleh : GKSM – Agus G. Mote)*







Posting Komentar

0 Komentar