SELAMAT KUNJUNGI WEBSITE GEREJA KATOLIK STASI MUGOUDA

BAPAK DOMINIKUS MOTE, MENGENANG RIWAYAT HIDUP SEBAGAI ABDI GURU PERINTIS DI JAYAWIJAYA WAMENA

 


Di Share oleh : Agus G. Mote, Dokumentasi : GKSM - Mugouda

CERITA SINGKAT PERJALANAN RIWAYAT HIDUP BAPAK DOMINIKUS MOTE SEBAGAI PENGABDIAN GURU DI JAYAWIJAYA WAMENA  DARI TAHUN 1970 SAMPAI PENSIUN TAHUN 2013 SELAMA 56 TAHUN.

Pada bulan mei 1970 berangkat dari Biak ke Wamena setelah menamatkan pendidikan Sekolah Guru Bawah (SGB) Biak. Salah satu sekolah Belanda utk persiapan guru-guru Yayasan Katolik di Papua dan besok paginya jalan kaki ke Hepuba ikut jalan setapak muara kali Uweima dan kali Baliem utk Mengabdi di SD YPPK Santo Michael HEPUBA Kecamatan Wamena Kabupaten Jayawijaya sebagai guru bantu selama 1 tahun dan pada tahun 1971 diangkat sebagai CPNS dari Kabupaten Jayawijaya kemudian mengabdi disana selama 6 tahun 1970-1976.

Pada tahun 1976 pindah Welesi setelah menikah dengan mama Yohana Tekege, selanjutnya utk merintis dan membuka SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi tepatnya di kampung Pawikama skrang. Atas partisipasi WARGA masyarakat sekolah darurat dibangun dengan papan gergaji tangan beratapkan alang-alang. Sekolah waktu itu masih gunakan gedung kapela lama bersama bapak marga Dogomo satu mengajar disitu, waktu itu kapela/gereja di jadikan sekolah senin sampe hari sabtu dan pada hari minggu di jadikan tempat ibadah.

Tahun 1977 saat gejolak sosial di Jayawijaya orang tua saya tetap kerja bangun sekolah tidak ke wamena sampai harus di jemput oleh kepala suku Mee Marius Mote bersama dengan pemuda lainnya utk segerah ke wamena karena akan dilakukan operasi militer. Pada saat bulan December 1977 lahirlah Natalia Mote Tuhan menganugrahi anak perempuan, kemudian tahun 1979 Tuhan anugerahi Maria Nelly Mote tetapi pada tahun itu juga mama Yohana Tekege terganggu pikirannya sehingga meninggalkan anaknya yang masih bayi 3 bulan dan di asuh oleh mama Paulina Pekei Madai karena anak Kostan Madai juga umur sama sedang minum susu. Mama ini merawat kedua anak ini hampir setahun kemudian mama datang mencari anaknya dan ambil kembali di tangan mama Paulina Pekei Madai.

Pada tahun 1981 setelah banjir besar kali wasih sampe ke wamena ikut aliran kali uweima lahirlah anak laki-laki Raimondus Mote. Rumah kami tepatnya di komplek hotel Srikandi sekarang dari tahun 1970 di Jalan Irian Mulele Wamena, lokasi kami saat itu di jual kepada orang Makasar pada tahun 1983,  kemudian Bapak Guru Dominikus Mote pindah ke SD YPPK Santo Fransiskus Waghete Kabupaten Paniai mengajar disana selama 2 tahun dan Pada tahun akhir 1985 setelah itu pindah ke Wamena dan lahirlah anak Yance Mote. Bapak Dominikus Mote  setelah pindah ke Wamena selanjutnya mengajar di SD YPPK Mulima Kecamatan Kurulu selama setahun, berikutnya tahun 1986 orang bapak dominikus mote pindah kembali mengajar di SD YPPK Santo STEVANUS SINATMA Welesi dan buat rumah di Kompleks Tolikara Misi. Pada tahun 1987 lahirlah anak perempuan Kristina Mote di komplek Tolikara Misi dan tahun 1989 lahirlah anak perempuan lagi yang bernama Anastasia Mote. Sehingga jumlah anak dalam keluarga kami banyak 6 orang.  terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki.

Pada tahun 1990 bapak Dominikus mote pindah ke Welesi dan menetap disana kemudian mama yohana tekege  pindah ke Waghete dan menetap disana keputusan itu diambil oleh bapak dominikus mote suaminya karena kesehatan mama yohana tekege yg sedang sakit sehingga mengganggu aktivitas bapak sebagai seorang guru SD. Selama tahun 1990 sampai tahun 1999 mereka  semua beradik kaka hidup bersama dengan seorang bapak. Tahun 1999 om saya Melianus Tekege mengantarkan mama dari Wagete Paniai ke Wamena pada saat itu Raimondus mote  kelas 1 SMU dan mama yohana tekege kembali hidup bersama dengan keluarganya di wamena. Tahun 2005 bapak dominikus mote pindah ke SD YPPK Santo Yakobus honelama distrik Wamena selama 3 tahun mengajar disana kemudian pindah lagi mengajar di SD YPPK santo Stevanus Wouma distrik Wouma mengajar selama 3 tahun lagi. Tahun 2011 bapak dominggus mote  kembali mengajar di SD YPPK SANTO  STEVANUS Sinatma distrik Welesi hingga pensiun pada tahun 2013 dengan pangkat/golongan Penata TK.I.III/b.

Pada saat itu Banyak tawaran datang kepada bapak dominikus mote akan dinaikan pangkat, akan dinaikan sebagai kepala sekolah, akan dijadikan penilik sekolah, akan dijadikan sebagai kepala distrik sebagai jabatan penghargaan dari masyarakat tetapi semua tawaran dari masyarakt dan dari Pemerintah daerah melalui dinas pendidikan tetapi bapak dominikus mote menolak dan sampaikan semua itu biarlah anak-anak dan cucu saya yang akan menikmatinya. Dalam keseharian sebagai seorang guru bapak dominikus mote juga berprofesi sebagai seorang tani yang punya lokasi kebun beberapa tempat yaitu  di Hepuba, Megapura, Wouma dan Welesi.

Pada tahun 2012 bapak dominikus mote sempat di rawat karen sakit prostat selama 3 kali operasi di RSUD Wamena selama 3 bulan di wamena waktu itu belum ada Kartu Papua sehat jadi Mahal biaya Bapak domiknikus mote kirim ke RSMM Karitas Timika dan disana dirawat selama 2 minggu dengan operasi ulang jahitannya kemudian tahun 2017 akhir operasi ulang lagi di rumah sakit Bayangkara dan tahun 2018 operasi ulang lagi yg ke 6 kali (operasi protat awalnya Salah operasi jadi diperbaiki di tempat yg sama) hal ini dilakukan. Setelah itu dia pindah ke Jayapura dan menetap di Jayapura bersama anaknya Yance Mote kemudian menikahkan anaknya Yance tahun 2018 dan pada bulan maret tahun 2019.  Bapak Dominikus mote menghembus napas terakhirnya di Rumah sakit PROVITA Jayapura dengan sakit radang paru. Jenasahnya kami bawah ke Waghete Kabupaten Deiyai melalui nabire dan Kuburkan di Wagete.

Hal yang unik terjadi saat kedukaan selama kurang lebih 60an tahun keluar dari kampung halaman tidak pernah pulang melihat kampung halaman dan keluarga besar sehingga pada saat kedukaan ratusan orang yg hadir dan ada seorang bapak Max Marian dari Wamena yg ikut saksikan pemakaman duka hingga selesai. Selama duka banyak anak-anak lahir besar di Wamena datang dengan hiburan nyanyian puji-pujian luar biasa semuanya Tuhan Berkati.

Baik duka di Waena dan di Wagete. Satu kata yg orang tua tinggalkan kepada kita anak-anaknya yaitu; “JASA ORANG TUA HARUS DIBAYAR DENGAN TINGKAHLAKU YANG BAIK”. Selesai kedukaan di Wagete mama terkasih Yohana Tekege menetap disana. Dari 6 bersaudara kini yg ada hanya 3 orang Ibu Maria Mote, Bapak Raimondus Mote dan Bapak Yance Mote. Sedangkan 3 saudara telah meninggal almarhuma Natalia Mote tahun 2016, Almarhuma Kristina Mote tahun 2012,  Almarhuma Anastasia Mote tahun2009.

Sekedar mengenang kembali awal Pengabdian sebagai guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pada dari awal Mei 1970-2013 Pensiun di Wamena Kabupaten Jayawijaya.

Sejarah hidupnya telah mengukir prestasi yang cemerlang hebat dalam perjuangan dan perjalanan. Keterangan Foto,  keluarga besar Bapak DOMINIKUS MOTE Kajian sebatas identitas keluarga pribadi.

dengan foto asli tulisan bold balok besar ukuran baleho besar panjang tinggi baner terang indah

------------

Kesimpulan 1 :

Kisah hidup Bapak Dominikus Mote (disebut juga Bapak Dominggus Mote) adalah potret nyata dari ketulusan seorang Guru Perintis di tanah Papua. Selama 43 tahun masa bakti (1970–2013), beliau mengorbankan kenyamanan pribadi demi membuka cakrawala pendidikan bagi anak-anak di pedalaman Jayawijaya, Wamena. Beliau adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sejati.

Berikut adalah rangangan struktur perjalanan hidup, pengabdian, serta perjuangan keluarga beliau yang disarikan dari catatan sejarah keluarga.


Garis Waktu Pengabdian dan Perjalanan Hidup

  • Mei 1970: Menamatkan pendidikan di Sekolah Guru Bawah (SGB) Biak (sekolah bentukan Belanda untuk guru Yayasan Katolik). Beliau langsung berangkat ke Wamena dan berjalan kaki menyusuri jalan setapak muara Kali Uweima dan Kali Baliem menuju SD YPPK Santo Michael Hepuba. Mengabdi sebagai guru bantu selama 1 tahun.
  • 1971–1976: Diangkat menjadi CPNS di Jayawijaya.
  • 1976: Menikah dengan Mama Yohana Tekege dan pindah ke Welesi. Di sana, beliau merintis SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi (sekarang Kampung Pawikama). Bersama Bapak marga Dogomo, mereka mengajar di gedung kapela darurat berbahan papan gergaji tangan dan atap alang-alang. Gedung tersebut menjadi sekolah dari Senin–Sabtu, dan tempat ibadah pada hari Minggu.
  • 1977: Terjadi gejolak sosial di Jayawijaya. Beliau tetap bertahan membangun sekolah sampai akhirnya dijemput oleh Kepala Suku Mee, Marius Mote, untuk mengungsi ke Wamena demi keselamatan.
  • 1983–1985: Setelah menjual tanah tempat tinggalnya di Jalan Irian Mulele Wamena, beliau pindah dan mengajar di SD YPPK Santo Fransiskus Waghete, Kabupaten Paniai selama 2 tahun.
  • Akhir 1985–1986: Kembali ke Wamena, sempat mengajar di SD YPPK Mulima Kecamatan Kurulu selama setahun, lalu kembali mengajar di SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi dan membangun rumah di Komplek Tolikara Misi.
  • 1990–2005: Menetap dan fokus mengajar di Welesi.
  • 2005–2008: Mengajar di SD YPPK Santo Yakobus Honelama, Distrik Wamena selama 3 tahun.
  • 2008–2011: Mengajar di SD YPPK Santo Stevanus Wouma, Distrik Wouma selama 3 tahun.
  • 2011–2013: Kembali ke SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi hingga memasuki masa pensiun dengan pangkat terakhir Penata Tk. I, Golongan III/b.

 

Dinamika Keluarga dan Perjuangan Domestik

Kehidupan keluarga Bapak Dominikus penuh dengan ujian berat yang dihadapi dengan ketegaran luar biasa:

  • Punya 6 Anak: Terdiri dari 4 anak perempuan dan 2 anak laki-laki.
    1. Natalia Mote (Lahir Desember 1977 – Wafat 2016) [1]
    2. Maria Nelly Mote (Lahir 1979) [1]
    3. Raimondus Mote (Lahir 1981, setelah banjir besar Kali Wasih) [1]
    4. Yance Mote (Lahir akhir 1985) [1]
    5. Kristina Mote (Lahir 1987 – Wafat 2012) [1]
    6. Anastasia Mote (Lahir 1989 – Wafat 2009) [1]
  • Ujian Kesehatan Mama Yohana: Sejak tahun 1979, Mama Yohana Tekege mengalami gangguan kesehatan mental. Pada tahun 1990, demi kelancaran tugas mengajar Bapak Dominikus dan demi kesehatan sang istri, diambil keputusan agar Mama Yohana menetap di Waghete, Paniai.
  • Bapak Tunggal (1990–1999): Selama hampir 10 tahun, Bapak Dominikus membesarkan keenam anaknya seorang diri sebagai bapak tunggal di Wamena, hingga tahun 1999 ketika sang paman (Melianus Tekege) mengantarkan kembali Mama Yohana untuk hidup bersama lagi di Wamena.
  • Kondisi Saat Ini: Dari 6 bersaudara, saat ini hanya tersisa 3 orang yang masih hidup, yaitu Ibu Maria Mote, Bapak Raimondus Mote, dan Bapak Yance Mote. Mama Yohana Tekege kini menetap di Waghete.

 

Keteladanan, Integritas, dan Akhir Hayat

  • Menolak Jabatan Duniawi: Sepanjang kariernya, beliau berkali-kali ditawari kenaikan pangkat dipercepat, jabatan Kepala Sekolah, Penilik Sekolah, hingga Kepala Distrik sebagai penghargaan dari pemerintah dan masyarakat. Namun, beliau menolak semuanya dengan prinsip yang anggun: "Biarlah anak-anak dan cucu saya yang akan menikmatinya." [1] Beliau memilih setia menjadi guru kelas di garis depan pendidikan.
  • Etos Kerja Tinggi: Selain mengajar, beliau adalah petani pekerja keras yang mengelola kebun di berbagai wilayah seperti Hepuba, Megapura, Wouma, dan Welesi untuk menopang hidup keluarganya.
  • Perjuangan Melawan Sakit: Sejak 2012, beliau menderita sakit prostat dan mengalami salah operasi yang mengharuskan beliau menjalani total 6 kali operasi (di RSUD Wamena, RSMM Caritas Timika, dan RS Bhayangkara). Beliau menghabiskan sisa hidupnya di Jayapura bersama anaknya, Yance Mote.
  • Wafat: Beliau mengembuskan napas terakhir di RS Provita Jayapura pada Maret 2019 karena radang paru-paru. Jenazahnya dibawa pulang dan dimakamkan di kampung halamannya di Waghete, Kabupaten Deiyai. Itu adalah kepulangan pertamanya setelah sekitar 60 tahun merantau demi pengabdian.

Warisan Abadi (Legacy)

Satu pesan mutiara dan prinsip hidup yang ditinggalkan oleh Almarhum Bapak Dominikus Mote kepada anak-cucunya adalah:

“JASA ORANG TUA HARUS DIBAYAR DENGAN TINGKAHLAKU YANG BAIK”

Kisah pengabdian ini adalah warisan sejarah yang sangat berharga. Jika Anda bersiap untuk menyusun naskah ini menjadi sebuah buku biografi keluarga, atau membutuhkan bantuan untuk menyusun kata pengantar formal, puisi penghormatan, atau teks pidato untuk mengenang beliau,

 

-----------

Kesimpulan 2

Kisah perjalanan hidup Bapak Dominikus Mote adalah dedikasi luar biasa seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Mengabdi sebagai guru perintis sejak Mei 1970 hingga pensiun pada 2013, beliau merintis sekolah dan mendidik generasi di pedalaman Papua, meninggalkan warisan moral yang kuat bagi keluarga dan masyarakat.

Berikut adalah rangkuman kronologis perjalanan pengabdian dan riwayat hidup Bapak Dominikus Mote:

Jejak Pengabdian Guru Perintis

  • 1970: Menamatkan pendidikan SGB Biak dan berangkat ke Wamena. Mulai mengabdi sebagai guru bantu di SD YPPK Santo Michael Hepuba.
  • 1971: Resmi diangkat sebagai CPNS di Kabupaten Jayawijaya.
  • 1976: Pindah ke Welesi dan merintis SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi (Kampung Pawikama) bersama masyarakat setempat dan Bapak Dogomo.
  • 1977: Bertahan di Welesi untuk membangun sekolah di tengah gejolak sosial, hingga dijemput kepala suku untuk menghindari operasi militer.
  • 1983-1985: Pindah mengajar di SD YPPK Santo Fransiskus Waghete (Kabupaten Paniai) selama dua tahun.
  • 1985-1986: Kembali ke Wamena dan mengajar di SD YPPK Mulima (Kurulu), lalu kembali ke SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi.
  • 2005: Pindah mengajar di SD YPPK Santo Yakobus Honelama dan SD YPPK Santo Stevanus Wouma.
  • 2011: Kembali ke SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi hingga purna tugas.

Puncak Karier dan Penolakan Jabatan

Memasuki masa pensiun pada tahun 2013 dengan pangkat Penata TK.I.III/b, beliau memiliki rekam jejak yang cemerlang. Bapak Dominikus Mote dikenal sangat berdedikasi, hingga banyak tawaran jabatan datang kepadanya, termasuk tawaran menjadi kepala sekolah, penilik sekolah, hingga kepala distrik. Namun, semua tawaran tersebut beliau tolak dengan rendah hati, memberikan kesempatan tersebut agar dinikmati oleh anak dan cucunya.

------------

Berikut adalah penyusunan teks biografi formal, menyentuh, dan sistematis berdasarkan catatan riwayat hidup Almarhum Bapak Dominikus Mote. Teks ini dirancang dengan struktur yang rapi, bahasa yang khidmat, dan siap digunakan untuk kebutuhan teks baliho, banner kenangan, atau buku saku keluarga.

 

MENGENANG RIWAYAT HIDUP & PENGABDIAN

BAPAK DOMINIKUS MOTE

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Abdi Guru Perintis di Tanah Jayawijaya, Wamena (1970–2013)

"Jasa orang tua harus dibayar dengan tingkah laku yang baik."
Pesan Abadi Bapak Dominikus Mote

1. Fajar Pengabdian: Langkah Awal di Lembah Baliem (1970–1976)

  • Mei 1970: Menyelesaikan pendidikan di Sekolah Guru Bawah (SGB) Biak, sebuah sekolah bentukan Belanda untuk mempersiapkan guru-guru Yayasan Katolik di Papua. Beliau langsung bertolak menuju Wamena.
  • Perjalanan Perdana: Menembus pedalaman dengan berjalan kaki menuju Hepuba, menyusuri jalan setapak di muara Kali Uweima dan Kali Baliem.
  • Tugas Pertama: Mengabdi sebagai guru bantu selama 1 tahun di SD YPPK Santo Michael HEPUBA, Kecamatan Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
  • Tahun 1971: Resmi diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kabupaten Jayawijaya. Beliau mendedikasikan 6 tahun pertamanya (1970–1976) untuk mendidik anak-anak di Hepuba.

2. Merintis Pendidikan di Tengah Gejolak (1976–1983)

  • Tahun 1976: Menikah dengan Mama Yohana Tekege dan pindah ke Welesi. Beliau merintis dan membuka SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi (sekarang di Kampung Pawikama).
  • Gotong Royong Misi: Bersama warga setempat dan Bapak Marga Dogomo, mereka membangun sekolah darurat dari papan gergaji tangan dan beratap alang-alang. Gedung kapela lama dialihfungsikan: menjadi ruang kelas pada hari Senin–Sabtu, dan menjadi tempat ibadah pada hari Minggu.
  • Tahun 1977 (Gejolak Sosial): Di tengah situasi keamanan yang genting, Beliau tetap bertahan membangun sekolah. Beliau akhirnya dijemput oleh Kepala Suku Mee, Marius Mote, bersama para pemuda untuk mengungsi ke kota Wamena demi keselamatan sebelum operasi militer dimulai.
  • Kompleks Mulele: Sejak tahun 1970, keluarga menetap di Jalan Irian Mulele, Wamena (lokasi yang kini menjadi kompleks Hotel Srikandi). Tempat ini menjadi saksi kelahiran putra-putri beliau, sebelum akhirnya tanah tersebut dijual pada tahun 1983.

3. Dinamika Tugas dan Ujian Keluarga (1983–1999)

  • Tahun 1983–1985: Pindah tugas ke Kabupaten Paniai dan mengajar di SD YPPK Santo Fransiskus Waghete selama 2 tahun.
  • Akhir 1985–1986: Kembali ke Wamena, sempat mengajar di SD YPPK Mulima, Kecamatan Kurulu selama 1 tahun, sebelum akhirnya kembali mengajar di SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi dan membangun rumah di Kompleks Tolikara Misi.
  • Keteguhan Seorang Ayah (1990–1999): Demi memulihkan kesehatan Mama Yohana Tekege yang sedang sakit, diambil keputusan agar Mama menetap di Waghete. Selama hampir 10 tahun, Bapak Dominikus berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya di Welesi, hingga pada tahun 1999, Mama Yohana diantarkan kembali oleh Om Melianus Tekege untuk berkumpul bersama di Wamena.

4. Masa-Masa Akhir Tugas dan Ketulusan Hati (2005–2013)

  • Tahun 2005–2008: Mengabdi di SD YPPK Santo Yakobus Honelama, Distrik Wamena.
  • Tahun 2008–2011: Mengabdi di SD YPPK Santo Stevanus Wouma, Distrik Wouma.
  • Tahun 2011–2013: Kembali ke tempat rintisannya, SD YPPK Santo Stevanus Sinatma, Distrik Welesi, hingga memasuki masa pensiun dengan pangkat terakhir Penata Tk. I / Golongan III/b.
  • Menolak Jabatan: Selama masa baktinya, Beliau banyak mendapat tawaran penghargaan dari masyarakat dan Dinas Pendidikan untuk naik pangkat, menjadi Kepala Sekolah, Penilik Sekolah, hingga Kepala Distrik. Namun, Beliau menolak dengan bersahaja: “Biarlah semua jabatan dan penghargaan itu anak-anak dan cucu saya yang menikmatinya.”
  • Sisi Lain: Di samping mengajar, Beliau adalah petani ulung yang mengelola kebun di Hepuba, Megapura, Wouma, dan Welesi.

5. Garis Akhir dan Kepulangan ke Kampung Halaman (2012–2019)

  • Perjuangan Melawan Sakit: Sejak 2012, Beliau berjuang melawan penyakit prostat dan menjalani total 6 kali operasi (di RSUD Wamena, RSMM Caritas Timika, RS Bhayangkara, hingga RS Provita Jayapura).
  • Maret 2019: Di usianya yang senja, setelah menetap sementara bersama putranya Yance Mote di Jayapura, Bapak Dominikus Mote mengembuskan napas terakhirnya di RS Provita Jayapura akibat radang paru-paru.
  • Kepulangan Abadi: Setelah lebih dari 60 tahun merantau dan tidak pernah pulang, jenazah Beliau dihantarkan kembali ke tanah leluhurnya di Waghete, Kabupaten Deiyai melalui Nabire, dan dimakamkan di sana. Suasana duka di Waena maupun Waghete dipenuhi ratusan pelayat, nyanyian pujian dari anak-anak besar Wamena, serta disaksikan oleh sahabat setianya, Bapak Max Marian dari Wamena.

Silsilah & Identitas Keluarga Pribadi

Bapak Dominikus Mote dan Mama Yohana Tekege dianugerahi 6 orang anak (4 perempuan dan 2 laki-laki).

Anak-Anak yang Telah Berpulang (Almarhum/Almarhuma):

  1. Almarhuma Natalia Mote (Lahir Desember 1977 – Wafat 2016)
  2. Almarhuma Kristina Mote (Lahir 1987 – Wafat 2012)
  3. Almarhuma Anastasia Mote (Lahir 1989 – Wafat 2009)

Anak-Anak yang Melanjutkan Estafet Doa & Perjuangan:

  1. Ibu Maria Nelly Mote (Lahir 1979) — Semasa bayi usia 3 bulan pernah diasuh dengan kasih oleh Mama Paulina Pekei Madai.
  2. Bapak Raimondus Mote (Lahir 1981) — Lahir pasca-banjir besar Kali Wasih/Uweima.
  3. Bapak Yance Mote (Lahir 1985) — Tempat bersandar Bapak Dominikus di masa tua hingga melepas napas terakhir.

Saat ini, Mama Terkasih Yohana Tekege menetap dan menghabiskan masa tuanya di Waghete, Paniai/Deiyai.


Keterangan Foto Utama Keluarga Besar

(Foto asli diletakkan di bagian tengah bawah banner/baliho dengan bingkai yang indah, memperlihatkan kebersamaan keluarga sebagai simbol keteguhan, cinta kasih, dan keberhasilan seorang abdi pendidikan sejati.)

SUMBER : https://abetlakiselera.car.blog/2022/09/05/cerita-singkat-perjalanan-pengabdian-ayah-saya-bpk-dominikus-mote-sebagai-guru-di-kabupaten-jayawijaya-dari-tahun-1970-2013-sampai-pensiun/










































Posting Komentar

0 Komentar