Di Share oleh : Agus G. Mote, Dokumentasi : GKSM - Mugouda
CERITA SINGKAT PERJALANAN RIWAYAT HIDUP BAPAK DOMINIKUS MOTE
SEBAGAI PENGABDIAN GURU DI JAYAWIJAYA WAMENA
DARI TAHUN 1970 SAMPAI PENSIUN TAHUN 2013 SELAMA 56 TAHUN.
Pada bulan mei 1970 berangkat dari Biak ke Wamena setelah
menamatkan pendidikan Sekolah Guru Bawah (SGB) Biak. Salah satu sekolah Belanda
utk persiapan guru-guru Yayasan Katolik di Papua dan besok paginya jalan kaki
ke Hepuba ikut jalan setapak muara kali Uweima dan kali Baliem utk Mengabdi di
SD YPPK Santo Michael HEPUBA Kecamatan Wamena Kabupaten Jayawijaya sebagai guru
bantu selama 1 tahun dan pada tahun 1971 diangkat sebagai CPNS dari Kabupaten Jayawijaya
kemudian mengabdi disana selama 6 tahun 1970-1976.
Pada tahun 1976 pindah Welesi setelah menikah dengan mama Yohana
Tekege, selanjutnya utk merintis dan membuka SD YPPK Santo Stevanus Sinatma
Welesi tepatnya di kampung Pawikama skrang. Atas partisipasi WARGA masyarakat
sekolah darurat dibangun dengan papan gergaji tangan beratapkan alang-alang.
Sekolah waktu itu masih gunakan gedung kapela lama bersama bapak marga Dogomo satu
mengajar disitu, waktu itu kapela/gereja di jadikan sekolah senin sampe hari
sabtu dan pada hari minggu di jadikan tempat ibadah.
Tahun 1977 saat gejolak sosial di Jayawijaya orang tua saya
tetap kerja bangun sekolah tidak ke wamena sampai harus di jemput oleh kepala
suku Mee Marius Mote bersama dengan pemuda lainnya utk segerah ke wamena karena
akan dilakukan operasi militer. Pada saat bulan December 1977 lahirlah Natalia
Mote Tuhan menganugrahi anak perempuan, kemudian tahun 1979 Tuhan anugerahi
Maria Nelly Mote tetapi pada tahun itu juga mama Yohana Tekege terganggu
pikirannya sehingga meninggalkan anaknya yang masih bayi 3 bulan dan di asuh
oleh mama Paulina Pekei Madai karena anak Kostan Madai juga umur sama sedang
minum susu. Mama ini merawat kedua anak ini hampir setahun kemudian mama datang
mencari anaknya dan ambil kembali di tangan mama Paulina Pekei Madai.
Pada tahun 1981 setelah banjir besar kali wasih sampe ke
wamena ikut aliran kali uweima lahirlah anak laki-laki Raimondus Mote. Rumah kami
tepatnya di komplek hotel Srikandi sekarang dari tahun 1970 di Jalan Irian
Mulele Wamena, lokasi kami saat itu di jual kepada orang Makasar pada tahun
1983, kemudian Bapak Guru Dominikus Mote
pindah ke SD YPPK Santo Fransiskus Waghete Kabupaten Paniai mengajar disana
selama 2 tahun dan Pada tahun akhir 1985 setelah itu pindah ke Wamena dan
lahirlah anak Yance Mote. Bapak Dominikus Mote setelah pindah ke Wamena selanjutnya mengajar
di SD YPPK Mulima Kecamatan Kurulu selama setahun, berikutnya tahun 1986 orang bapak
dominikus mote pindah kembali mengajar di SD YPPK Santo STEVANUS SINATMA Welesi
dan buat rumah di Kompleks Tolikara Misi. Pada tahun 1987 lahirlah anak
perempuan Kristina Mote di komplek Tolikara Misi dan tahun 1989 lahirlah anak
perempuan lagi yang bernama Anastasia Mote. Sehingga jumlah anak dalam keluarga
kami banyak 6 orang. terdiri dari 4
orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki.
Pada tahun 1990 bapak Dominikus mote pindah ke Welesi dan
menetap disana kemudian mama yohana tekege pindah ke Waghete dan menetap disana keputusan
itu diambil oleh bapak dominikus mote suaminya karena kesehatan mama yohana
tekege yg sedang sakit sehingga mengganggu aktivitas bapak sebagai seorang guru
SD. Selama tahun 1990 sampai tahun 1999 mereka semua beradik kaka hidup bersama dengan
seorang bapak. Tahun 1999 om saya Melianus Tekege mengantarkan mama dari Wagete
Paniai ke Wamena pada saat itu Raimondus mote kelas 1 SMU dan mama yohana tekege kembali
hidup bersama dengan keluarganya di wamena. Tahun 2005 bapak dominikus mote
pindah ke SD YPPK Santo Yakobus honelama distrik Wamena selama 3 tahun mengajar
disana kemudian pindah lagi mengajar di SD YPPK santo Stevanus Wouma distrik
Wouma mengajar selama 3 tahun lagi. Tahun 2011 bapak dominggus mote kembali mengajar di SD YPPK SANTO STEVANUS Sinatma distrik Welesi hingga
pensiun pada tahun 2013 dengan pangkat/golongan Penata TK.I.III/b.
Pada saat itu Banyak tawaran datang kepada bapak dominikus
mote akan dinaikan pangkat, akan dinaikan sebagai kepala sekolah, akan
dijadikan penilik sekolah, akan dijadikan sebagai kepala distrik sebagai
jabatan penghargaan dari masyarakat tetapi semua tawaran dari masyarakt dan
dari Pemerintah daerah melalui dinas pendidikan tetapi bapak dominikus mote
menolak dan sampaikan semua itu biarlah anak-anak dan cucu saya yang akan
menikmatinya. Dalam keseharian sebagai seorang guru bapak dominikus mote juga
berprofesi sebagai seorang tani yang punya lokasi kebun beberapa tempat yaitu di Hepuba, Megapura, Wouma dan Welesi.
Pada tahun 2012 bapak dominikus mote sempat di rawat karen
sakit prostat selama 3 kali operasi di RSUD Wamena selama 3 bulan di wamena
waktu itu belum ada Kartu Papua sehat jadi Mahal biaya Bapak domiknikus mote
kirim ke RSMM Karitas Timika dan disana dirawat selama 2 minggu dengan operasi
ulang jahitannya kemudian tahun 2017 akhir operasi ulang lagi di rumah sakit Bayangkara
dan tahun 2018 operasi ulang lagi yg ke 6 kali (operasi protat awalnya Salah
operasi jadi diperbaiki di tempat yg sama) hal ini dilakukan. Setelah itu dia
pindah ke Jayapura dan menetap di Jayapura bersama anaknya Yance Mote kemudian
menikahkan anaknya Yance tahun 2018 dan pada bulan maret tahun 2019. Bapak Dominikus mote menghembus napas
terakhirnya di Rumah sakit PROVITA Jayapura dengan sakit radang paru.
Jenasahnya kami bawah ke Waghete Kabupaten Deiyai melalui nabire dan Kuburkan
di Wagete.
Hal yang unik terjadi saat kedukaan selama kurang lebih 60an
tahun keluar dari kampung halaman tidak pernah pulang melihat kampung halaman
dan keluarga besar sehingga pada saat kedukaan ratusan orang yg hadir dan ada
seorang bapak Max Marian dari Wamena yg ikut saksikan pemakaman duka hingga
selesai. Selama duka banyak anak-anak lahir besar di Wamena datang dengan
hiburan nyanyian puji-pujian luar biasa semuanya Tuhan Berkati.
Baik duka di Waena dan di Wagete. Satu kata yg orang tua
tinggalkan kepada kita anak-anaknya yaitu; “JASA ORANG TUA HARUS DIBAYAR DENGAN
TINGKAHLAKU YANG BAIK”. Selesai kedukaan di Wagete mama terkasih Yohana Tekege
menetap disana. Dari 6 bersaudara kini yg ada hanya 3 orang Ibu Maria Mote, Bapak
Raimondus Mote dan Bapak Yance Mote. Sedangkan 3 saudara telah meninggal almarhuma
Natalia Mote tahun 2016, Almarhuma Kristina Mote tahun 2012, Almarhuma Anastasia Mote tahun2009.
Sekedar mengenang kembali awal Pengabdian sebagai guru sebagai
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pada dari awal Mei 1970-2013 Pensiun di Wamena
Kabupaten Jayawijaya.
Sejarah hidupnya telah mengukir prestasi yang cemerlang
hebat dalam perjuangan dan perjalanan. Keterangan Foto, keluarga besar Bapak DOMINIKUS MOTE Kajian sebatas
identitas keluarga pribadi.
dengan foto asli tulisan bold balok besar ukuran baleho
besar panjang tinggi baner terang indah
------------
Kesimpulan 1 :
Kisah hidup Bapak Dominikus Mote (disebut juga Bapak
Dominggus Mote) adalah potret nyata dari ketulusan seorang Guru Perintis
di tanah Papua. Selama 43 tahun masa bakti (1970–2013), beliau
mengorbankan kenyamanan pribadi demi membuka cakrawala pendidikan bagi
anak-anak di pedalaman Jayawijaya, Wamena. Beliau adalah pahlawan tanpa tanda
jasa yang sejati.
Berikut adalah rangangan struktur perjalanan hidup,
pengabdian, serta perjuangan keluarga beliau yang disarikan dari catatan
sejarah keluarga.
Garis Waktu Pengabdian dan Perjalanan Hidup
- Mei
1970: Menamatkan pendidikan di Sekolah Guru Bawah (SGB) Biak (sekolah
bentukan Belanda untuk guru Yayasan Katolik). Beliau langsung berangkat ke
Wamena dan berjalan kaki menyusuri jalan setapak muara Kali Uweima dan
Kali Baliem menuju SD YPPK Santo Michael Hepuba. Mengabdi sebagai
guru bantu selama 1 tahun.
- 1971–1976:
Diangkat menjadi CPNS di Jayawijaya.
- 1976:
Menikah dengan Mama Yohana Tekege dan pindah ke Welesi. Di sana,
beliau merintis SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi (sekarang
Kampung Pawikama). Bersama Bapak marga Dogomo, mereka mengajar di gedung
kapela darurat berbahan papan gergaji tangan dan atap alang-alang. Gedung
tersebut menjadi sekolah dari Senin–Sabtu, dan tempat ibadah pada hari
Minggu.
- 1977:
Terjadi gejolak sosial di Jayawijaya. Beliau tetap bertahan membangun
sekolah sampai akhirnya dijemput oleh Kepala Suku Mee, Marius Mote, untuk
mengungsi ke Wamena demi keselamatan.
- 1983–1985:
Setelah menjual tanah tempat tinggalnya di Jalan Irian Mulele Wamena,
beliau pindah dan mengajar di SD YPPK Santo Fransiskus Waghete,
Kabupaten Paniai selama 2 tahun.
- Akhir
1985–1986: Kembali ke Wamena, sempat mengajar di SD YPPK Mulima Kecamatan
Kurulu selama setahun, lalu kembali mengajar di SD YPPK Santo
Stevanus Sinatma Welesi dan membangun rumah di Komplek Tolikara Misi.
- 1990–2005:
Menetap dan fokus mengajar di Welesi.
- 2005–2008:
Mengajar di SD YPPK Santo Yakobus Honelama, Distrik Wamena selama 3
tahun.
- 2008–2011:
Mengajar di SD YPPK Santo Stevanus Wouma, Distrik Wouma selama 3
tahun.
- 2011–2013:
Kembali ke SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi hingga memasuki
masa pensiun dengan pangkat terakhir Penata Tk. I, Golongan III/b.
Dinamika Keluarga dan Perjuangan Domestik
Kehidupan keluarga Bapak Dominikus penuh dengan ujian berat
yang dihadapi dengan ketegaran luar biasa:
- Punya
6 Anak: Terdiri dari 4 anak perempuan dan 2 anak laki-laki.
- Natalia
Mote (Lahir Desember 1977 – Wafat 2016) [1]
- Maria
Nelly Mote (Lahir 1979) [1]
- Raimondus
Mote (Lahir 1981, setelah banjir besar Kali Wasih) [1]
- Yance
Mote (Lahir akhir 1985) [1]
- Kristina
Mote (Lahir 1987 – Wafat 2012) [1]
- Anastasia
Mote (Lahir 1989 – Wafat 2009) [1]
- Ujian
Kesehatan Mama Yohana: Sejak tahun 1979, Mama Yohana Tekege mengalami
gangguan kesehatan mental. Pada tahun 1990, demi kelancaran tugas mengajar
Bapak Dominikus dan demi kesehatan sang istri, diambil keputusan agar Mama
Yohana menetap di Waghete, Paniai.
- Bapak
Tunggal (1990–1999): Selama hampir 10 tahun, Bapak Dominikus
membesarkan keenam anaknya seorang diri sebagai bapak tunggal di Wamena,
hingga tahun 1999 ketika sang paman (Melianus Tekege) mengantarkan kembali
Mama Yohana untuk hidup bersama lagi di Wamena.
- Kondisi
Saat Ini: Dari 6 bersaudara, saat ini hanya tersisa 3 orang yang masih
hidup, yaitu Ibu Maria Mote, Bapak Raimondus Mote, dan Bapak Yance Mote.
Mama Yohana Tekege kini menetap di Waghete.
Keteladanan, Integritas, dan Akhir Hayat
- Menolak
Jabatan Duniawi: Sepanjang kariernya, beliau berkali-kali ditawari
kenaikan pangkat dipercepat, jabatan Kepala Sekolah, Penilik Sekolah,
hingga Kepala Distrik sebagai penghargaan dari pemerintah dan masyarakat.
Namun, beliau menolak semuanya dengan prinsip yang anggun: "Biarlah
anak-anak dan cucu saya yang akan menikmatinya." [1] Beliau
memilih setia menjadi guru kelas di garis depan pendidikan.
- Etos
Kerja Tinggi: Selain mengajar, beliau adalah petani pekerja keras yang
mengelola kebun di berbagai wilayah seperti Hepuba, Megapura, Wouma, dan
Welesi untuk menopang hidup keluarganya.
- Perjuangan
Melawan Sakit: Sejak 2012, beliau menderita sakit prostat dan
mengalami salah operasi yang mengharuskan beliau menjalani total 6 kali
operasi (di RSUD Wamena, RSMM Caritas Timika, dan RS Bhayangkara).
Beliau menghabiskan sisa hidupnya di Jayapura bersama anaknya, Yance Mote.
- Wafat:
Beliau mengembuskan napas terakhir di RS Provita Jayapura pada Maret
2019 karena radang paru-paru. Jenazahnya dibawa pulang dan dimakamkan
di kampung halamannya di Waghete, Kabupaten Deiyai. Itu adalah
kepulangan pertamanya setelah sekitar 60 tahun merantau demi pengabdian.
Warisan Abadi (Legacy)
Satu pesan mutiara dan prinsip hidup yang ditinggalkan oleh
Almarhum Bapak Dominikus Mote kepada anak-cucunya adalah:
“JASA ORANG TUA HARUS DIBAYAR DENGAN TINGKAHLAKU YANG
BAIK”
Kisah pengabdian ini adalah warisan sejarah yang sangat
berharga. Jika Anda bersiap untuk menyusun naskah ini menjadi sebuah buku
biografi keluarga, atau membutuhkan bantuan untuk menyusun kata pengantar
formal, puisi penghormatan, atau teks pidato untuk mengenang
beliau,
-----------
Kesimpulan 2
Kisah perjalanan hidup Bapak Dominikus Mote adalah dedikasi
luar biasa seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Mengabdi sebagai guru perintis
sejak Mei 1970 hingga pensiun pada 2013, beliau merintis sekolah dan mendidik
generasi di pedalaman Papua, meninggalkan warisan moral yang kuat bagi keluarga
dan masyarakat.
Berikut adalah rangkuman kronologis perjalanan pengabdian
dan riwayat hidup Bapak Dominikus Mote:
Jejak Pengabdian Guru Perintis
- 1970:
Menamatkan pendidikan SGB Biak dan berangkat ke Wamena. Mulai mengabdi
sebagai guru bantu di SD YPPK Santo Michael Hepuba.
- 1971:
Resmi diangkat sebagai CPNS di Kabupaten Jayawijaya.
- 1976:
Pindah ke Welesi dan merintis SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi
(Kampung Pawikama) bersama masyarakat setempat dan Bapak Dogomo.
- 1977:
Bertahan di Welesi untuk membangun sekolah di tengah gejolak sosial,
hingga dijemput kepala suku untuk menghindari operasi militer.
- 1983-1985:
Pindah mengajar di SD YPPK Santo Fransiskus Waghete (Kabupaten Paniai)
selama dua tahun.
- 1985-1986:
Kembali ke Wamena dan mengajar di SD YPPK Mulima (Kurulu), lalu kembali ke
SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi.
- 2005:
Pindah mengajar di SD YPPK Santo Yakobus Honelama dan SD YPPK Santo
Stevanus Wouma.
- 2011:
Kembali ke SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi hingga purna tugas.
Puncak Karier dan Penolakan Jabatan
Memasuki masa pensiun pada tahun 2013 dengan pangkat Penata
TK.I.III/b, beliau memiliki rekam jejak yang cemerlang. Bapak Dominikus Mote
dikenal sangat berdedikasi, hingga banyak tawaran jabatan datang kepadanya,
termasuk tawaran menjadi kepala sekolah, penilik sekolah, hingga kepala
distrik. Namun, semua tawaran tersebut beliau tolak dengan rendah hati,
memberikan kesempatan tersebut agar dinikmati oleh anak dan cucunya.
------------
Berikut adalah penyusunan teks biografi formal, menyentuh,
dan sistematis berdasarkan catatan riwayat hidup Almarhum Bapak Dominikus
Mote. Teks ini dirancang dengan struktur yang rapi, bahasa yang khidmat,
dan siap digunakan untuk kebutuhan teks baliho, banner kenangan, atau buku saku
keluarga.
MENGENANG RIWAYAT HIDUP & PENGABDIAN
BAPAK DOMINIKUS MOTE
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Abdi Guru Perintis di Tanah
Jayawijaya, Wamena (1970–2013)
1. Fajar Pengabdian: Langkah Awal di Lembah Baliem
(1970–1976)
- Mei
1970: Menyelesaikan pendidikan di Sekolah Guru Bawah (SGB) Biak,
sebuah sekolah bentukan Belanda untuk mempersiapkan guru-guru Yayasan
Katolik di Papua. Beliau langsung bertolak menuju Wamena.
- Perjalanan
Perdana: Menembus pedalaman dengan berjalan kaki menuju Hepuba,
menyusuri jalan setapak di muara Kali Uweima dan Kali Baliem.
- Tugas
Pertama: Mengabdi sebagai guru bantu selama 1 tahun di SD YPPK Santo
Michael HEPUBA, Kecamatan Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
- Tahun
1971: Resmi diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)
Kabupaten Jayawijaya. Beliau mendedikasikan 6 tahun pertamanya (1970–1976)
untuk mendidik anak-anak di Hepuba.
2. Merintis Pendidikan di Tengah Gejolak (1976–1983)
- Tahun
1976: Menikah dengan Mama Yohana Tekege dan pindah ke Welesi. Beliau
merintis dan membuka SD YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi
(sekarang di Kampung Pawikama).
- Gotong
Royong Misi: Bersama warga setempat dan Bapak Marga Dogomo, mereka
membangun sekolah darurat dari papan gergaji tangan dan beratap
alang-alang. Gedung kapela lama dialihfungsikan: menjadi ruang kelas pada
hari Senin–Sabtu, dan menjadi tempat ibadah pada hari Minggu.
- Tahun
1977 (Gejolak Sosial): Di tengah situasi keamanan yang genting, Beliau
tetap bertahan membangun sekolah. Beliau akhirnya dijemput oleh Kepala
Suku Mee, Marius Mote, bersama para pemuda untuk mengungsi ke kota Wamena
demi keselamatan sebelum operasi militer dimulai.
- Kompleks
Mulele: Sejak tahun 1970, keluarga menetap di Jalan Irian Mulele,
Wamena (lokasi yang kini menjadi kompleks Hotel Srikandi). Tempat ini
menjadi saksi kelahiran putra-putri beliau, sebelum akhirnya tanah
tersebut dijual pada tahun 1983.
3. Dinamika Tugas dan Ujian Keluarga (1983–1999)
- Tahun
1983–1985: Pindah tugas ke Kabupaten Paniai dan mengajar di SD YPPK
Santo Fransiskus Waghete selama 2 tahun.
- Akhir
1985–1986: Kembali ke Wamena, sempat mengajar di SD YPPK Mulima,
Kecamatan Kurulu selama 1 tahun, sebelum akhirnya kembali mengajar di SD
YPPK Santo Stevanus Sinatma Welesi dan membangun rumah di Kompleks
Tolikara Misi.
- Keteguhan
Seorang Ayah (1990–1999): Demi memulihkan kesehatan Mama Yohana Tekege
yang sedang sakit, diambil keputusan agar Mama menetap di Waghete. Selama
hampir 10 tahun, Bapak Dominikus berjuang seorang diri membesarkan
anak-anaknya di Welesi, hingga pada tahun 1999, Mama Yohana diantarkan
kembali oleh Om Melianus Tekege untuk berkumpul bersama di Wamena.
4. Masa-Masa Akhir Tugas dan Ketulusan Hati (2005–2013)
- Tahun
2005–2008: Mengabdi di SD YPPK Santo Yakobus Honelama, Distrik
Wamena.
- Tahun
2008–2011: Mengabdi di SD YPPK Santo Stevanus Wouma, Distrik
Wouma.
- Tahun
2011–2013: Kembali ke tempat rintisannya, SD YPPK Santo Stevanus
Sinatma, Distrik Welesi, hingga memasuki masa pensiun dengan pangkat
terakhir Penata Tk. I / Golongan III/b.
- Menolak
Jabatan: Selama masa baktinya, Beliau banyak mendapat tawaran
penghargaan dari masyarakat dan Dinas Pendidikan untuk naik pangkat,
menjadi Kepala Sekolah, Penilik Sekolah, hingga Kepala Distrik. Namun,
Beliau menolak dengan bersahaja: “Biarlah semua jabatan dan penghargaan
itu anak-anak dan cucu saya yang menikmatinya.”
- Sisi
Lain: Di samping mengajar, Beliau adalah petani ulung yang mengelola
kebun di Hepuba, Megapura, Wouma, dan Welesi.
5. Garis Akhir dan Kepulangan ke Kampung Halaman
(2012–2019)
- Perjuangan
Melawan Sakit: Sejak 2012, Beliau berjuang melawan penyakit prostat
dan menjalani total 6 kali operasi (di RSUD Wamena, RSMM Caritas Timika,
RS Bhayangkara, hingga RS Provita Jayapura).
- Maret
2019: Di usianya yang senja, setelah menetap sementara bersama
putranya Yance Mote di Jayapura, Bapak Dominikus Mote mengembuskan napas
terakhirnya di RS Provita Jayapura akibat radang paru-paru.
- Kepulangan
Abadi: Setelah lebih dari 60 tahun merantau dan tidak pernah pulang,
jenazah Beliau dihantarkan kembali ke tanah leluhurnya di Waghete,
Kabupaten Deiyai melalui Nabire, dan dimakamkan di sana. Suasana duka
di Waena maupun Waghete dipenuhi ratusan pelayat, nyanyian pujian dari
anak-anak besar Wamena, serta disaksikan oleh sahabat setianya, Bapak Max
Marian dari Wamena.
Silsilah & Identitas Keluarga Pribadi
Bapak Dominikus Mote dan Mama Yohana Tekege dianugerahi 6
orang anak (4 perempuan dan 2 laki-laki).
Anak-Anak yang Telah Berpulang (Almarhum/Almarhuma):
- Almarhuma
Natalia Mote (Lahir Desember 1977 – Wafat 2016)
- Almarhuma
Kristina Mote (Lahir 1987 – Wafat 2012)
- Almarhuma
Anastasia Mote (Lahir 1989 – Wafat 2009)
Anak-Anak yang Melanjutkan Estafet Doa & Perjuangan:
- Ibu
Maria Nelly Mote (Lahir 1979) — Semasa bayi usia 3 bulan pernah
diasuh dengan kasih oleh Mama Paulina Pekei Madai.
- Bapak
Raimondus Mote (Lahir 1981) — Lahir pasca-banjir besar Kali
Wasih/Uweima.
- Bapak
Yance Mote (Lahir 1985) — Tempat bersandar Bapak Dominikus di masa
tua hingga melepas napas terakhir.
Saat ini, Mama Terkasih Yohana Tekege menetap dan
menghabiskan masa tuanya di Waghete, Paniai/Deiyai.
Keterangan Foto Utama Keluarga Besar
(Foto asli diletakkan di bagian tengah bawah
banner/baliho dengan bingkai yang indah, memperlihatkan kebersamaan keluarga
sebagai simbol keteguhan, cinta kasih, dan keberhasilan seorang abdi pendidikan
sejati.)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)


0 Komentar