Penulis: John Pakage
Ksaksiannya, Mugouda adalah sebuah kampung di distrik Tigi
kabupaten Deiyai. Terletak di depan Perkantoran Pemerintah Kabupaten Deiyai.
Alamnya masih asri, udaranya sejuk. Hanya terdapat jalan setapak sehingga
kendaraan roda dua dan roda empat belum masuk.
Desa ini ukauwo saya. Asal kampung halaman dari Mama. Sejak
kecil perna ke kampung ini tetapi puluhan tahun tidak pernah saya berkunjung.
Saat pemakaman Gembala ini saya berada di Waghete kabupaten Deiyai sehingga
saya ikut menyaksikan prosesi pemakaman. Seorang Gembala yang setia dalam
pelayanan 49 Tahun.
Di Kampung Mugouda, Distrik Tigi, Deiyai, ada dua bangunan yang
tumbuh bersama: gereja dan sekolah. Keduanya berdiri karena satu tangan yang
sama — tangan yang memegang tongkat gembala sekaligus kapur tulis. Tangan itu
milik Rumandus Mote.
Selama 49 tahun, dari 1971 hingga 2020, ia tidak pernah
meninggalkan Mugouda. Ia memilih tinggal ketika yang lain pergi merantau. Ia
memilih menggembalakan ketika yang lain mengejar jabatan. Dan pada Rabu subuh,
07 Oktober 2020, pukul 05.00 WIT, ia memilih pulang. Tenang, di rumahnya
sendiri, di tanah yang ia layani seumur hidup.
Fajar di Mugouda: 01 Mei 1953
Rumandus Mote lahir dari rahim Ibu Pekamadi Pekei, di antara
kabut Kampung Mugouda. Masa kecilnya adalah masa ketika Papua Tengah masih
sunyi dari aspal. Ia berjalan kaki ke SD Misi Katolik Wakeitei tahun 1964–1965,
lalu melanjutkan ke SMP YPPK Wakeitei. Sekolah tidak selesai sampai tamat, tapi
panggilan hidupnya justru dimulai dari situ.
Tahun 1971, di usia 18 tahun, ketika pemuda lain mencari kerja
di kota, Rumandus menerima mandat jadi Gembala Stasi Santa Maria Fatima
Mugouda. Bukan karena ia paling pintar berkhotbah. Tapi karena ia paling tahu
lapar umatnya — lapar roti, lapar Injil, lapar huruf.
Teologi Kaki Telanjang: 1971–2020
Menjadi gembala di pedalaman bukan soal mimbar. Itu soal jalan
kaki berjam-jam ke rumah umat yang sakit. Soal mendamaikan keluarga yang
bertengkar karena batas kebun. Soal membaptis anak di bawah atap bocor saat
hujan Deiyai turun tanpa permisi.
Selama 49 tahun, Rumandus Mote menjalankan _teologi kaki
telanjang_. Ia tidak punya gaji tetap. Ia punya umat yang kadang membawa noken
berisi petatas sebagai persembahan. Ia tidak punya mobil operasional. Ia punya
tongkat kayu dan Alkitab yang sampulnya sudah mengelupas karena sering dibuka.
Ia mewartakan Allah bukan dengan bahasa tinggi, tapi dengan
bahasa Mugouda: _“Kasih itu kalau ko bagi kayu api untuk tetangga yang tungku
sudah padam.”_
Itu sebabnya ketika ia wafat, ratusan umat datang. Bukan karena
protokol, tapi karena kehilangan bapa. Jumat, 09 Oktober 2020, halaman rumahnya
penuh. Pastor Paroki Wakeitei memimpin misa. Anggota DPRD Deiyai Markus Mote,
para gembala stasi tetangga, Dewan Paroki, dan anak-anak SD yang ia dirikan,
semua menunduk. Tongkat gembala itu akhirnya diletakkan.
Membangun Dua Mezbah: Gereja dan Sekolah
Rumandus percaya gereja yang tidak melahirkan sekolah adalah
gereja yang lumpuh. Maka tahun 2006 ia mendirikan TK PAUD YPPK Stasi Mugouda.
Gedungnya? Tenda berbasis budaya di samping gereja. Tiangnya kayu, atapnya
terpal, lantainya tanah. Tapi dari situ, anak-anak Mugouda pertama kali
mengenal huruf A.
Tahun 2012 ia mendorong agar TK itu naik status menjadi SD YPPK
Mugouda dan memindahkannya ke pinggir Jalan Raya Tougibaugi agar lebih mudah
diakses. Hari ini sekolah itu masih hidup. Anak-anak yang dulu ia pangku,
sekarang mengajar di sana.
Di saat yang sama, ia juga membangun rumah Tuhan. Gedung Gereja
Stasi Mugouda pertama ia selesaikan bersama umat — batu diangkat satu-satu dari
kali. Gedung kedua sedang ia perjuangkan ketika Tuhan memanggilnya pulang. Ia
meninggalkan warisan berupa fondasi, bukan bangunan jadi. Seolah berkata:
_“Kalian yang teruskan.”_
Gembala Seperti Apa Rumandus Mote?
Gembala yang Hadir Tanpa Jarak
Ia tidak memimpin dari pastoran. Ia memimpin dari dapur umat. Ia
tahu siapa yang belum bayar uang sekolah anak, siapa yang kebunnya gagal panen.
Khotbahnya lahir dari cerita nyata, bukan buku tafsir.
Pendidik Organik
Tanpa gelar S.Pd., ia menjalankan pedagogi paling murni: memberi
teladan. Ia mengajar baca-tulis di bawah tenda karena ia tahu iman tanpa
pengetahuan mudah disesatkan. Bagi Rumandus, melawan kebodohan adalah bagian
dari mewartakan Injil.
Ia membangun dua gereja dan satu sekolah, tapi rumahnya sendiri
tetap papan. Ia memediasi tanah, mencari semen, mengumpulkan dana, tapi tidak
pernah menaruh namanya di prasasti. Kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang
mengosongkan diri.
Penjaga Martabat
Ia menolak memotret kemiskinan umat untuk proposal bantuan. Ia
bilang, _“Kalau mau bantu, datang lihat. Jangan jual foto kami.”_ Ia menjaga
agar umatnya tidak jadi objek. Di tangannya, pelayanan adalah soal memuliakan,
bukan mengasihani.
Wasiat dari Tongkat yang Diletakkan
Rumandus Mote wafat dalam usia 67 tahun. Ia meninggalkan istri,
anak, cucu, dan satu stasi yang kini harus belajar berjalan tanpa dia.
Tapi ia juga meninggalkan rumus: bahwa setia itu bukan soal
viral. Setia itu soal bertahan di satu tempat selama 49 tahun, melakukan hal
kecil yang sama setiap hari — buka gereja, bunyikan lonceng, kunjungi yang
sakit, ajar anak membaca.
Kata Ketua Dewan Stasi Mugouda, Pelexs Adii: _“Semoga almarhum
mendapat tempat terbaik di sisi kanan Allah Bapa di Surga.”_
Mungkin iya. Tapi bagi umat Mugouda, tempat terbaik Rumandus
Mote adalah di ingatan mereka: sosok bertopi lusuh yang selalu datang lebih
dulu saat ada yang meninggal, dan pulang paling akhir saat ada yang menikah.
Ia tidak menulis buku. Hidupnyalah buku itu. Dan Mugouda adalah
halaman-halamannya.
Data Kunci
Nama:Rumandus Mote | Lahir: Mugouda, 01 Mei 1953 | Wafat: 07
Oktober 2020 | Jabatan: Gembala Stasi Santa Maria Fatima Mugouda, 1971–2020 |
Karya: Mendirikan TK/PAUD-SD YPPK Mugouda, Membangun 2 Gedung Gereja | Semboyan
Hidup: _Melayani sampai napas terakhir._
Dokumentasi: GKSM-Mugouda (Agus G. Mote) Mediasi:Yulius Mote
-------------
KESIMPULAN :
Tulisan karya John Pakage ini merupakan sebuah
penghormatan (obituari) yang sangat menyentuh bagi Rumandus Mote,
seorang tokoh iman dan pendidikan dari Kampung Mugouda, Kabupaten Deiyai.
Berikut adalah poin-poin utama yang merangkum dedikasi luar
biasa beliau selama 49 tahun:
1. Kesetiaan yang Tak Tergoyahkan (1971–2020)
Rumandus Mote memulai pelayanannya sebagai Gembala Stasi
Santa Maria Fatima Mugouda pada usia 18 tahun. Selama hampir setengah
abad, ia tidak pernah meninggalkan kampung halamannya untuk mengejar jabatan
atau kemewahan di kota. Ia memilih setia menjaga "domba-dombanya" di
Mugouda hingga akhir hayatnya pada 7 Oktober 2020.
2. Teologi "Kaki Telanjang"
Istilah ini menggambarkan gaya pelayanan beliau yang rendah hati
dan praktis:
- Tanpa
Jarak: Ia
memimpin dari dapur umat, mengetahui pergumulan hidup mereka secara
mendalam, mulai dari masalah kebun hingga biaya sekolah anak.
- Aksi
Nyata: Baginya,
kasih bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata seperti berbagi
kayu api kepada tetangga yang membutuhkan.
- Tanpa
Pamrih: Meski
membangun gereja dan sekolah, rumah pribadinya tetap sederhana (papan) dan
ia tidak pernah mencari panggung atau popularitas.
3. Mezbah Pendidikan: Pendiri Sekolah
Rumandus percaya bahwa iman harus berjalan beriringan dengan
pengetahuan. Kontribusi besarnya di bidang pendidikan meliputi:
- Mendirikan TK
PAUD YPPK Stasi Mugouda (2006) yang awalnya hanya beratap terpal
dan berlantai tanah.
- Mendorong
peningkatan status menjadi SD YPPK Mugouda (2012) dan
memindahkannya ke lokasi yang lebih strategis agar anak-anak pedalaman
bisa mengakses pendidikan dengan lebih baik.
4. Penjaga Martabat Umat
Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga harga diri
masyarakatnya. Ia menolak keras praktik "menjual kemiskinan" melalui
foto untuk mendapatkan bantuan proposal, dengan menegaskan bahwa pelayanan
adalah tentang memuliakan manusia, bukan menjadikan mereka objek belas kasihan.
Kesimpulan
Rumandus Mote wafat pada usia 67 tahun dengan meninggalkan
warisan berupa fondasi iman dan pendidikan yang kokoh. Kutipan yang paling
menggambarkan hidupnya adalah: "Ia tidak menulis buku. Hidupnyalah
buku itu. Dan Mugouda adalah halaman-halamannya."
--------
Tentu, ini adalah konsep visual dan struktur pesan
untuk Poster Karikatur Penghormatan kepada Almarhum Rumandus
Mote berdasarkan narasi menyentuh yang Anda berikan.
Konsep Visual Karikatur
Tokoh Utama:
- Rumandus
Mote digambarkan dengan wajah yang teduh, penuh senyum kebapakan,
mengenakan topi lusuh khasnya.
- Pakaian
sederhana, memegang Tongkat Gembala kayu di tangan kanan
dan sebuah Alkitab yang sampulnya agak mengelupas di
tangan kiri.
- Digambarkan
dengan kaki telanjang atau sandal sederhana untuk melambangkan "Teologi
Kaki Telanjang".
Latar Belakang (Mugouda):
- Pemandangan
alam Desa Mugouda yang asri dengan kabut tipis dan pepohonan hijau.
- Di
sisi kiri: Gedung Gereja Stasi Santa Maria Fatima yang
dibangun dari batu kali.
- Di
sisi kanan: Sekolah (SD YPPK) dengan anak-anak Papua
kecil yang sedang belajar/memegang buku, melambangkan warisan
pendidikannya.
Rancangan Teks Poster
Judul Utama:
RUMANDUS MOTE
PENGEMBALA SETIA DI MEZBAH TUHAN (1971–2020)
Sub-Judul:
"49 Tahun Melayani Tanpa Jarak, Mengabdi Tanpa Gaji."
Isi Ringkas (Poin Utama):
- Lahir: Mugouda,
01 Mei 1953 | Wafat: 07 Oktober 2020
- Teologi
Kaki Telanjang: Sosok yang membangun iman dari dapur umat,
mendamaikan sengketa, dan berjalan kaki menyusuri Mugouda selama hampir
setengah abad.
- Pembangun
Dua Mezbah: Pendiri TK/PAUD & SD YPPK Mugouda serta pembangun
fisik Gereja Stasi.
- Kutipan
Khas: "Kasih itu kalau ko bagi kayu api untuk tetangga
yang tungku sudah padam."
Kaki Poster:
- Penulis: John
Pakage
- Dokumentasi: GKSM-Mugouda
(Agus G. Mote)
- Mediasi: Yulius
Mote



0 Komentar