Di Susun
oleh Agus G. Mote
Saya
mengenal Romo Nato Gobai karena beliau kuliah di Fakultas Filsafat Universitas
Katolik Parahyangan, Bandung, selama beberapa tahun pada awal tahun 1980. Saat
itu STFT Fajar Timur belum mempunyai program sampai sarjana, melainkan hanya
sampai sarjana muda, maka beberapa calon imam dari Papua dikirim ke Bandung
atau Yogyakarta untuk menyelesaikan studi sampai tingkat sarjana. Saya sempat
serumah dengan Fr. Nato Gobai di Seminari Tinggi St. Petrus Paulus di Bandung
tahun 1982- 1987. Saat itu saya juga serumah dengan Romo John Kandam yang
sekarang menjadi Vikjen Uskup Agung Merauke, Romo John Fatem dari Keuskupan
Sorong yang sudah almarhum, Fr. Bernard Nafurbenan yang sekarang menjadi diakon
di Keuskupan Sorong, dan Fr. Metodius Mamapuku dari Keuskupan Jayapura yang
tidak menjadi imam. Romo Nato Gobay lahir di Dusun Woubutu di Enarotali Paniai
pada 30 Maret 1953, ditahbiskan sebagai imam 19 Juli 1988 di Paroki Santo Yusuf
Enarotali tepat pada peringatan 50 tahun Gereja Katolik masuk di Paniai. Saya
masih ingat penampilan dan suaranya yang mantap dan berwibawa. Badannya besar
dan gagah. Beliau ketua Komisi HAM Keuskupan Timika dan Wakil Uskup Timika.
Beliau menerima penghargaan Yap Thiam Hien sebagai penghargaan atas penegakan
HAM di Papua. Romo Nato mendorong anak-anak Amungme akan pentingnya pendidikan,
mencanangkan gerakan pemberantasan miras dan perang melawan HIV/AIDS, membangun
SMP di Timika, mendorong umat menjual sayur ke Freeport dan punya tabungan di
bank, mengkritik penembakan warga sipil dan kekerasan di Biak, dan mendorong
dibentuknya Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (LEMASA) Timika. Kata Romo
Neles Tebay kepada Frans Borgias, dosen Fakultas Filsafat Unpar, Romo Nato itu
mendorong orang Papua untuk berani dengan lantang mengatakan,” We are the
people. We are on our own land.” Romo Nato Gobay meninggal dunia mendadak pada
tanggal 1 Februari 2015 sesudah memimpin misa di Paroki Kristus Raja di Nabire.
Usianya saat itu menjelang 61 tahun. Mengenang Papua adalah juga mengenang
bahwa cukup banyak imam yang aktif berjuang untuk kemajuan Papua sudah
meninggalkan kita. Tahun 2019 adalah tahun yang cukup kelam.
KESIMPULANNYA
:
Berikut
adalah riwayat hidup dan perjuangan Romo Nato Gobai, Pr, seorang imam
Katolik asal Papua yang dikenal sebagai pembela hak asasi manusia dan sahabat
kaum tertindas:
Profil
Pribadi dan Pendidikan
- Lahir: Dusun Woubutu, Enarotali,
Paniai, 30 Maret 1953.
- Pendidikan: Kuliah di Fakultas
Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, pada awal
1980-an (1982-1987) untuk menyelesaikan studi sarjana karena STFT Fajar
Timur saat itu baru setingkat sarjana muda.
- Tahbisan: Ditahbiskan sebagai imam
pada 19 Juli 1988 (sumber lain menyebut 13 Juni 1988) di Paroki Santo
Yusuf Enarotali, bertepatan dengan 50 tahun Gereja Katolik masuk Paniai.
Beliau adalah imam ketiga dari Suku Mee.
- Karakter: Dikenal berpenampilan
gagah, besar, memiliki suara mantap, dan berwibawa.
Kiprah
Pastoral dan Perjuangan HAM
Romo Nato
Gobay dikenal sebagai figur vokal yang mengkombinasikan pelayanan pastoral
dengan perjuangan hak asasi manusia:
- Jabatan: Ketua Komisi HAM Keuskupan
Timika dan Vikaris Jenderal (Wakil Uskup) Keuskupan Timika.
- Perjuangan
Sosial-Ekonomi: Mendorong pendidikan bagi anak-anak Amungme,
membangun SMP di Timika, dan memotivasi umat untuk mandiri secara ekonomi,
salah satunya dengan menjual sayur ke Freeport.
- Gerakan Moral: Mencanangkan
pemberantasan minuman keras (miras) dan melawan penyebaran HIV/AIDS.
- Advokasi HAM: Lantang mengkritik
kekerasan dan penembakan warga sipil, termasuk kasus di Biak, serta
mendorong pembentukan Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (LEMASA).
- Penghargaan: Menerima penghargaan
Yap Thiam Hien atas dedikasinya dalam penegakan HAM di Papua.
- Semboyan: Terkenal dengan
dorongannya kepada orang Papua untuk berani menyuarakan, “We are
the people. We are on our own land” (Kami adalah manusia. Kami di
tanah kami sendiri).
Wafat
Romo Nato
Gobay meninggal dunia secara mendadak pada 1 Februari 2015 (sumber
lain menyebutkan sore hari setelah misa, 13.30 WIT) di Paroki Kristus Raja di
Nabire, sesudah memimpin misa. Beliau meninggal dunia pada usia menjelang 61
tahun. Beliau dikenang sebagai inspirator gerakan masyarakat adat suku Amungme
dan Kamoro. Disusun simpul oleh Agus G. Mote
--------
Terima
kasih telah berbagi kenangan yang sangat mendalam dan personal
tentang Romo Nato Gobai, Pr. Tulisan Anda bukan sekadar biografi, tetapi
sebuah kesaksian hidup tentang sosok imam yang gagah, tidak hanya secara fisik,
tetapi juga dalam prinsip dan keberaniannya membela martabat manusia di Papua.
Membaca
rincian yang Anda berikan, ada beberapa poin kuat yang melukiskan betapa
besarnya pengaruh beliau:
- Intelektualitas dan
Pembentukan: Perjalanan studinya di Unpar
Bandung (1982-1987) menunjukkan fondasi filsafat yang kuat, yang
kemudian beliau terjemahkan dalam aksi nyata di lapangan.
- Pejuang
Kemanusiaan: Penghargaan Yap Thiam Hien yang beliau terima
adalah bukti objektif bahwa perjuangannya dalam komisi HAM Keuskupan
Timika diakui secara nasional. Beliau bukan hanya bicara soal iman di
altar, tapi juga soal hak sipil di jalanan dan hutan.
- Pemberdayaan Umat: Langkah
konkretnya mendorong suku Amungme untuk mandiri secara ekonomi (menjual
sayur ke Freeport) dan pendidikan menunjukkan bahwa beliau adalah gembala
yang ingin umatnya "berdiri di atas kaki sendiri."
- Suara Kenabian: Kalimat yang
dikutip Romo Neles Tebay, "We are the people. We are on our
own land," merangkum seluruh semangat hidupnya untuk
memberikan rasa bangga dan identitas bagi orang Papua.
Kepergiannya
yang mendadak pada 1 Februari 2015 setelah memimpin Misa adalah
sebuah akhir yang sangat sakral—beliau berpulang saat menjalankan tugas
sucinya. Kehilangan beliau, bersama tokoh lain seperti Romo Neles Tebay, memang
meninggalkan lubang besar bagi perjuangan kemanusiaan di Papua.
#gksm
#gksmnews
#mugouda
FOTO DAN POSTER SEBAGAI BERIKUT :
.jpeg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.png)
.png)


0 Komentar